Aksi perampokan disertai pembunuhan menimpa sepasang suami istri warga Desa Sinunukan, Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jumat (2/8/2013) dini hari. Kedua korban ditemukan pukul 02.30 WIB. Sang suami Nasrun Majid (50) alias Acun dan istrinya Suntari (30) ditemukan bersimbah darah di rumah kantin yang mereka tempati. Perampok berhasil membawa uang tunai sekita Rp49 juta. Sang suami tewas sementara istrinya dirawat di RSU Permata Madina, Panyabungan.
Suntari (30) istri korban perampokan di perusahaan tambang emas PT Medan Madani Mining (M3) saat ini dirawat di Ruang Inap Kelas I Kamar Mina 4 Rumah Sakit Umum Permata Madina, Kelurahan Kayujati, Panyabungan. Saat disambangi wartawan, Sabtu (3/8/2013), korban ditemani beberapa orang keluarga menjelaskan kejadian tragis yang menimpa dirinya bersama suaminya pada hari Jumat dini hari kemarin.
Diceritakan, malam itu dia cepat menutup warung nasinya yang setiap hari buka siang dan malam 24 jam. Karena terlalu capek dan ingin istirahat, dia sengaja mematikan semua lampu listrik di rumahnya dan yang ada hanyalah lampu charger di kamar. Dia saat itu berdua sama suaminya Acun, yang sedang sakit komplikasi beberapa waktu terakhir. Ketika sedang terlelap tidur, datang beberapa orang laki-laki langsung menangkap dirinya dan memukul bagian kepalanya dengan kayu balok, begitu juga dengan suaminya.
“Saat itu yang keluar dari mulut mereka hanya menanya dimana disembunyikan uangmu. Kalau sama saya nanyanya pakai bahasa Indonesia tetapi kalau mereka ngomong pakai bahasa Mandailing. Awalnya saya bilang uang itu berada di dapur belakang dan sebenarnya uang itu ada di dalam tas dan saya simpan di dalam lemari kamar kami. Salah satu diantaranya mencari di dapur lalu kembali dan memukul saya lagi karena tidak ada di belakang. Karena tidak tahan lagi dengan penyiksaan mereka terhadap saya dan suami akhirnya saya tunjukkan tempat uang itu. Setelah diambil lalu mereka kabur membawa uang bersama satu unit handphone Nokia X3. Mereka datang dari pintu belakang dan pulang dari pintu yang sama bahkan kami digembok lagi dari luar. Habis itu saya merasa tidak sadar lagi. Aku ikhlas uang dibawa, tapi jangan sampai dibunuh, mereka sadis, Bang,” beber Sundari.
Tak lama kemudian, sekitar pukul 03.00 WIB baru dia sadar dan mendengar suara memanggil dari luar rumah. Lalu Sundari berusaha berdiri dan berjalan menuju pintu. Ternyata yang di luar adalah karyawan PT M3 bernama Salam, yang ingin membeli sesuatu.
“Pas dia melihat saya dengan darah di kepala dan pakaian dia malah berlari dan memanggil karyawan yang lain. Disitulah baru kami tertolong, karena pada saat kejadian memang lagi hujan kecil dan kami memang tidak punya tetangga. Makanya saat kami menjerit tidak ada yang bisa mendengar,” ungkapnya.
Dia juga mengatakan, usaha warung nasinya dibantu dengan empat orang karyawan yakni tiga karyawan perempuan dan satu laki-laki. Namun sehari-seharinya semua karyawan tidur di tempat penginapan yang tak jauh dari warung berjarak sekitar 100 meter. Sedangkan anaknya Dina Syahrini (2) jarang bersama mereka. Setiap harinya anak mereka bersama neneknya di Sinunukan I. Sementara suaminya Acun selama ini bekerja sebagai mandor lapangan di PT M3.
“Harapan kami, pelakunya bisa segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya karena mereka orang sadis, Bang. Suami saya sakit masih saja dipukuli pakai balok dan kepala saya pecah sekarang semua kepala saya penuh jahitan, mohonlah pak polisi agar perampok itu ditangkap,” harapnya.
Sumber: http://beritasumut.com/view/Hukum---Kriminal/11905/Perampok-Pasutri-Pakai-Bahasa-Mandailing.html#.VPMH0Y619c4